Idul Adha : Pengertian, Syarat, Hukum Dan Ketentuan

Arti idul adha bagi umat muslim sangatlah krusial dan bersejarah dimana peristiwa kurban terjadi yaitu saat Nabi Ibrahim bersedia mengorbankan putranya Ismail, untuk Allah SWT. Dengan keajaiban-Nya, Ismail kemudian Allah SWT gantikan dengan domba. Atas peristiwa itulah pada bulan Dzulhijah di tanggal 10, umat muslim akan berkumpul di pagir hari untuk melakukan ibadah sholat idul adha berjamaah, sama hal nya seperti sholat idul fitri.

Selepas sholat, dilanjutkan dengan penyembelihan hewan qurban untuk mempertingati hari bersejarah ini. Hari Idul Adha bertepatan dengan hari tasyrik yaitu hari diharamkannya umat muslim untuk berpuasa. Idul Adha juga merupakan puncak ibadah haji. Serangkaian aktivitas yang dimulai dari sholat hingga penyembelihan masuk dalam kategori ibadah, sehingga siapapun yang melaksanakannya, khususnya umat muslim akan mendapatkan ganjaran pahala.

Berikut ini pembahasan lebih lengkap mengenai Idul Adha : Pengertian, Syarat, Hukum Dan Ketentuan. Bagi kamu umat muslim, tentu wajib membaca ulasan berikut ini. Simak yuk!

Pengertian Idul Adha

Seperti yang sebelumnya sudah disampaikan, perayaan idul adha dilaksanakan pada tanggal 10 Dzulhijah. Hari ini sering disebut juga sebagai “Hari Raya Haji”, dimana memang umat muslim di wukuf arafah sedang menunaikan ibadah haji.

Di sampi itu, idu adha juga dinamakan “Idul Qurban” karena pada hari itu Allah memberikan kesempatan pada umat muslim untuk semakin mendekatkan diri kepada-Nya. Bagi muslim yang belum berkesempatan melaksanakan ibadah di wukuf arafah maka ia bisa menggantikannya dengan berkurban hewan, bila mampu. Sebelumnya juga sudah dijelaskan bahwa idul adha memiliki sisi histori yang tidak bisa dipisahkan yaitu mengenai Nabi Ibrahim dan ismail.

Kemuliaan idul adha memang sangat melekat, sehingga anjuran untuk melaksanakannya pun diwajibkan untuk seluruh umat muslim tanpa terkecuali.

Syarat-Syarat Idul Adha

Berdasarkan pengertian yang sudah disampaikan sebelumnya, sekarang kamu sudah bisa memahami kenapa sebagai umat muslim wajib melaksanakan ibadah pada hari ini kan? Nah, namun kamu juga perlu tahu bahwa pelaksanaan idul adha tidak bisa sembarangan. Kamu harus memenuhi syarat bahkan adab-adabhnya. Berikut adalah syarat sholat idul adha:

Pelaksanaannya Dilakukan Setelah Matahari Terbit

Saat hendak melaksanakan sholat idul adha tentu hal paling dasar harus kamu ketahui adalah kapan waktu sholatnya. Nah, perlu kamu ketahui kalua waktu sholatnya ini dilakukan setelah matahari terbit dan didirkan di tempat terbuka atau lapang, bila tidak hujan. Namun salah satu Imam Mahzah yaitu Syafi’i menyampaikan bahwa sholat idul adha juga bisa dilaksanakan di masjid namun berukuran besar yang bisa menampung sejumlah jamaah muslim.

Karena memang anjurannya adalah sholat ini harus dilakukan secara berjamaah. Namun bila tidak sempat karena ada halangan syari’I maka diperbolehkan untuk sholat sendiri.

Abu Hasan Ali Al-Bagdadi menyampaikan dalam kitab Al-Iqna mengatakan bahwa hendaklah melaksnakan sholat 2 hari raya dalam keadaan hadir atau pun bepergian, baik dengan berjamaat atau pun sendiri-sendiri. Namun juga dianjurkan dan diharuskan bagi yang benar-benar tidak memiliki halangan untuk sholat berjamaah di masjid dan di lapang yang terbuka.

Abu Hasan Ali Al- Bagdadi dalam kitab Al- Iqna “fiqh Asy-syafi’I mengatakan “dan hendaklah melaksanakan sholat dua hari raya dalam keadaan hadir maupun berpergian, baik dengan berjamaah maupun sendiri-sendiri”. Namun sangat dianjurkan dan diharuskan bagi yang benar-benar tidak berhalangan untuk melakukan sholat berjamaah di masjid atau di lapang terbuka.

Cukup Umur dan Sehat

Umat muslim yang hendak melaksanakan ibadah idul adha tentu yang diwajibkan adalah yang sudah cukup umur atau baligh dan dalam keadaan sehat.

Telah Melaksanakan Mandi Wajib Sebelum atau Sesudah Subuh

Setiap muslim yang akan melaksanakan sholat diwajibkan untuk mandi terlebih dahulu. Baik itu sebelum atau sesudah subuh. Hal ini didukung dengan beberapa hadist berikut:

Dari Nafi’, beliau mengatakan: bahwa Ibnu Umar radliallahu ‘anhuma mandi pada hari Idul Fitri sebelum berangkat ke lapangan. (HR. Malik dan asy-Syafi’i dan sanadnya shahih)

Selanjutnya adalah berhias dan menggunakan wewangian. Umat muslim akan menghadapi hari yang suci, hendaklah mempersiapkan diri sebaik mungkin, sehingga berhias sesuai Syariat sangatlah dianjurkan. Namun ingat, jangan berlebihan. Hal ini didukung oleh hadist berikut:

“Sesungguhnya hari ini adalah hari raya yang Allah jadikan untuk kaum muslimin. Barangsiapa yang hadir jumatan, hendaknya dia mandi. Jika dia punya wewangian, hendaknya dia gunakan, dan kalian harus gosok gigi.” (HR. Ibn Majah dan dihasankan al-Albani)

Menyiapkan Hewan Kurban yang Telah Memenuhi Syarat (Bagi yang Mampu)

Nah, bagi kamu yang mau berkurban, hendaknya menyiapkan hewan kurban yang memang memenuhi syarat.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Jabir bahwasannya Rasulullah SAW bersabda, “Jangan kamu menyembelih untuk qurban melainkan yang telah berganti gigi kecuali jika sukar didapat, maka boleh berumur satu tahun (yang masuk kedua tahun) dari kambing/domba” (HR. Muslim).

Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi saat henda menyiapkan hewan qurban. Pertama, hewan yang dipilih harus dalam keadaan sehat dan tidak boleh memilih binatang sakit, tidak boleh juga memilih hewan yang memiliki cacat pada tubuhnya.

Beberapa hal yang berkaitan dengan ketentuan berqurban juga harus kamu penuhi, diantaranya:

  • Niat ingin berkurban karena Allah SWT
  • Mengucapkan asma Alla saat menyembelih
  • Menyiapkan pisau yang tajam saat akan menyembelih
  • Menyembelih tepat pada leher atau kerongkongannya
  • Disembelih oleh seorang muslim
  • Memastikan kalau urat lehernya sudah terputus

Ketentuan di atas hendaknya kamu perhatikan, apalagi bila kamu sudah berencana untuk berkurban.

Mendengarkan Khutbah Selepas Sholat Idul Adha

Selepas melaksanakan shalat Idul Adha, janganlah kamu bergegas melipat alat sholat. Sebab setelah itu kamu akan mendapatkan kemulian serta pahala lebih yaitu dengan mendengarkan khutbah selesap sholat idul adha.

Menuju Tempat Sholat dengan Tenang

Saat hendak menuju tempat sholat idul adha, kamu juga sangat disarankan untuk berjalan degan tenang dan menudukan pandangan sebagaimana yang dilakukan Rasulullah SAW sebelumnya. Jangan tergesa-gesa apalagi berlari. Hal ini tentu cukup sederhana, namun dijelaskan dalam sebuah hadist:

“Bahwa nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menuju lapangan dengan berjalan kaki dan beliau pulang juga dengan berjalan.” (HR. Ibn majah dan dishahihkan al-Albani)

Hukum dan Ketentuan Idul Adha

Mengenai hukum kurban, para ulama memiliki pendapat yang berbeda. Adapun Jumhur Ulama yakni yang menggunakan Imam Malik, Imam Syafi’I, Imam Ahmad dan lainnya menyatakan bahwa idul adha masuk dalam kategori sunnah. Di samping itu Imam Syafi’I mengatakan bahwa ini masuk dalam sunna muakkad dimana harus dilakukan dan diusahakan, boleh tidak dilakukan bida ada uzur syra’i. Sementara itu Imam Hanafi mengatakan bahwa ini wajib.

Berikut ini adalah salah satu hadist tentang kurban:

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

(( مَنْ وَجَدَ سَعَةً فَلَمْ يُضَحِّ فَلا يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا. ))

“Barang siapa mendapatkan kelapangan tetapi tidak berqurban, maka janganlah dia mendekati tempat shalat kami.”

Mengenai hadist ini, para ulama juga berbeda pendapat mengenai apa hukumnya. Sehingga mereka pun berbeda pendapat saat menghukumi suatu hadist yang diriwayatkan oleh Mikhnaf bi Sulaim Al-Ghamidi Radiallu’anhu.

Berikut adalah hadistnya:

( كُنَّا وُقُوفًا مَعَ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم بِعَرَفَاتٍ، فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ: ((يَا أَيُّهَا النَّاسُ! عَلَى كُلِّ أَهْلِ بَيْتٍ فِى كُلِّ عَامٍ أُضْحِيَّةٌ وَعَتِيرَةٌ. هَلْ تَدْرِى مَا الْعَتِيرَةُ؟ هِىَ الَّتِى تُسَمَّى الرَّجَبِيَّةُ.))

“Kami berwuquf di ‘Arafah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saya mendengar beliau berkata, ‘Wahai manusia! Setiap satu keluarga di setiap tahun harus menyembelih dan juga

Al-‘Atiirah. Apakah kamu tahu apa itu Al-‘Atiirah? Dia adalah yang dinamakan Ar-Rajabiyah.”

Terlepas dari sunna atau wajibnya Idul Adha, kita sebaiknya tetap melaksanakan ibadah yang dianjurkan. Sebab itu bisa mendapatkan pahala dan kemuliaan di sisi Allah SWT. Jangan memilah-milih ibadah hanya karena wajib atau sunnah nya. Di samping itu, Idul Adha juga bisa menjadi salah satu cara untuk kita bisa bersilturahmi sesama muslim.

Sebagaimana yang dianjurkan bahwa sebaiknya idul adha dilaksanakan di lapangan yang terbuka dan bisa dihadiri oleh banyak orang. Artinya, akan ada banyak muslim dari berbabagi tempat juga yang berkumpul di lapangan tersebut. Sungguh nikmat bila kita bisa berjamaah dengan sesama muslim, melaksanakan ibadah idul adha. Tentu kamu ingin juga merasakan kenikmatan beribadah tersebut kan?

Nah, khusus untuk para umahat atau wanita yang hendak melaksanakan idul adha namun dalam keadaan haid juga diperbolehkan untuk hadir di lapangan. Bukan untuk sholat, melainkan untuk ikut berkumpu dan bersilaturahmi dengan muslim lainnya. Karena ada begitu banyak kemuliaan dan pahala yang akan Allah bagikan pada hari itu.

Jangan lupa untuk melaksnakan mandi besar sebelum kamu bergegas ke lapangan ya. Kamu boleh mandi sebelum atau setelah sholat subuh, namun tentunya jangan setelah sholat idul adha karena itu sudah tidak masuk dalam ketegori ibadah idul adha.

Selepas sholat sangat disarankan bagi kamu bisa saling memaafkan atas kesalahan saudara nya. Namun jangan hanya dijadikan budaya saja, diman idul adha atau idul fitri identic dengan maaf memaafkan. Selepas idul adha diharapkan kita bisa Kembali suci dengan beban yang sudah sedikit demi sedikit dilepaskan khususnya bila ada beban di hati pada saudara dan saudarinya sendiri. Nikmatnya bersaudara juga bisa kamu rasakan saat idul adha.

Baca Juga : Tata Cara Sholat Idul Adha dan Bacaannya

Sementara itu, bagi kamu yang melaksanakan kurban, kamu juga jangan memakan daging kurbannya sendiri. Karena kalau begitu, dimana letak pahalanya? Kurban yang kamu lakukan akan diberikan pada mereka yang memang dianjurkan untuk menerimanya. Jangan sampai kamu juga memisahkan daging yang bagus kemudian memberikan bagian yang sudah kurang bagus. Ingat, letak kemuliaan berkurban bukanlah itu, melainkan kamu bisa mengurbankan hewan untuk dibagikan pada mereka yang dianjurkan.

Bagaimana, sudah memahami dengan baik apa itu Idul Adha : Pengertian, Syarat, Hukum Dan Ketentuan kan? Bila masih ingin mendapatkan informasi lebih detail cobalah mencari beberapa referensi buku yang menjelaskan mengenai idul adha, mulai dari kisah yang mengilhami hingga syarat dan hukumnya.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.